Waktu anak pertama kami lahir, hidup rasanya berubah total. Tidur jadi barang mewah, dapur penuh botol susu, dan tiba-tiba saja ada tumpukan cucian yang nggak pernah habis. Di tengah kekacauan itu, saya ingat banget momen ketika suami buka tagihan listrik dan melotot. Angkanya naik hampir dua kali lipat dibanding bulan sebelumnya. Kami berdua langsung saling tuduh: "Ini pasti gara-gara AC kamu nyala terus" dan "Bukan, ini pasti mesin cuci kamu yang tiap hari jalan".
Nah, dari situ saya mulai belajar banyak hal. Dan jujur, sebagian besar yang saya lakukan dulu untuk "menghemat" ternyata justru salah. Bukan cuma nggak menghemat, tapi malah bikin barang cepat rusak. Kalau kamu baru masuk fase jadi orang tua, mungkin beberapa kesalahan di bawah ini terasa familiar.
Mengira Mematikan Alat = Hemat Energi (Padahal Bukan)
Ini kesalahan pertama saya. Dulu saya pikir asal alat sudah dimatikan tombolnya, tagihan pasti turun. Kenyataannya, banyak perangkat di rumah tetap menyedot listrik meski sudah "off". Charger yang masih nyantol di colokan, TV yang standby, sampai microwave yang menampilkan jam digital terus-menerus. Anak-anak kecil sering banget main colokan, jadi saya juga jadi lebih sering pasang cabang colokan di mana-mana, dan itu makin memperparah keadaan.
Solusinya sederhana kok. Saya mulai pakai colokan yang ada sakelarnya, jadi habis dipakai tinggal matikan sakelar induknya. Untuk charger HP dan laptop, saya biasakan cabut kalau sudah selesai. Perubahan kecil ini lumayan banget efeknya ke tagihan, dan bonusnya, risiko anak main-main colokan juga berkurang.
Baca juga: Sebelum Kunci Rumah, Matikan 3 Hal Ini Biar Tagihan Aman
Hemat energi itu bukan soal pelit, tapi soal sadar. Begitu kamu tahu ke mana listrik pergi, keputusan berikutnya jadi lebih gampang.
Merawat Barang dengan Cara yang Justru Merusak
Karena pengen semuanya awet dan hemat, saya dulu asal bersihin semua barang pakai cairan pembersih serba bisa. Satu botol untuk kaca, kayu, plastik, semua disemprot. Eh, beberapa bulan kemudian lapisan pelindung meja kayu kami mengelupas, dan layar TV jadi ada bekasnya. Ternyata nggak semua permukaan cocok dengan pembersih yang sama. Ini pelajaran mahal yang bikin saya kapok.
Mesin cuci dan kulkas: dua barang yang paling sering salah dirawat
Mesin cuci kami dulu sering bau ayan. Ternyata karena saya selalu menutup rapat pintunya setelah cuci, jadi lembapnya terperangkap di dalam. Sekarang saya biasakan biarkan pintu terbuka setelah dipakai, dan sebulan sekali bersihkan filter serta jalankan siklus kosong dengan air panas. Hasilnya, mesin nggak bau dan umurnya lebih panjang.
Kulkas juga gitu. Dulu saya isi kulkas sampai penuh sesak karena belanja bulanan, pikirnya biar hemat nggak bolak-balik ke warung. Padahal kulkas yang terlalu penuh bikin udara dingin nggak bisa bersirkulasi, kompresor jadi kerja lebih keras, dan listrik makin boros. Sekarang saya sisakan ruang di dalam, dan rutin bersihin karet pintu kulkas biar tetap rapat. Kalau karetnya sudah nggak rapat, dinginnya bocor keluar dan itu bikin tagihan naik tanpa sadar.
Belanja Barang Murah demi "Hemat" yang Berujung Boros
Ini yang paling sering saya sesali. Waktu baru punya bayi, saya beli banyak sekali perlengkapan murah karena mikirnya sayang kalau beli mahal, nanti cepet nggak kepakai. Kenyataannya, beberapa barang murah itu rusak dalam hitungan minggu, jadi kami harus beli lagi. Totalnya malah lebih mahal daripada beli satu barang bagus yang tahan lama.
Bukan berarti harus selalu beli yang paling mahal ya. Tapi sekarang saya lebih selektif. Untuk barang yang dipakai tiap hari seperti setrika, rice cooker, atau pompa air, saya pilih yang kualitasnya jelas. Untuk barang yang cuma dipakai sesekali, baru boleh cari yang lebih murah. Prinsip ini bikin pengeluaran kami lebih terkontrol dan barang di rumah nggak menumpuk jadi sampah.
Lupa Kalau Kebiasaan Kecil Itu Menumpuk
Ada satu hal yang saya sadari belakangan: hemat energi dan rawat barang itu bukan soal satu tindakan besar, tapi soal kebiasaan kecil yang diulang terus. Matikan lampu di ruangan kosong, jemur cucian di bawah matahari kalau cuaca bagus daripada pakai dryer, cabut setrika setelah dipakai, bersihin filter AC sebulan sekali. Satu-satunya yang sulit adalah konsistensinya, apalagi kalau sudah lelah ngurus bayi.
Makanya saya dan suami bagi tugas. Dia yang urus filter AC dan kulkas, saya yang urus mesin cuci dan colokan. Kadang kami pasang pengingat di HP biar nggak lupa. Nggak selalu mulus sih, ada kalanya seminggu penuh kami lupa semuanya. Tapi ya nggak apa-apa, yang penting balik lagi ke jalurnya.
Kalau kamu sedang di fase awal jadi orang tua dan merasa semua ini ribet, tenang. Saya juga dulu gitu. Mulai dari satu atau dua kebiasaan dulu, nggak perlu langsung sempurna. Lama-lama jadi otomatis, dan yang paling penting, dompet dan barang-barang di rumah ikut berterima kasih.